Saturday, March 7, 2015

Sui Caedere dalam Fiksi

Entah mengapa, dan bagaimana, akhir-akhir ini saya merasa banyak membaca buku tentang bunuh diri. Terhitung Desember tahun lalu, sebetulnya. Dan sebagian besar saya temukan di novel.

Ditambah lagi, sekitar akhir Januari silam (kalau tidak salah) Indonesia dikejutkan dengan berita kematian tidak wajar dari seorang anak kelas delapan sekolah internasional, yang berakhir di dalam lemari pakaiannya. Hanged. Pemikiran saya pun jungkir balik seketika--yang tadinya saya kira negeri kita adem-ayem saja, ternyata menyimpan juga masalah serupa ini. Saya kira suicide lebih berlaku untuk para remaja korban liberalisme seperti di Amerika Serikat sana.

Tapi dari semua itu, saya temukan satu: depresi adalah penyakit yang sangat bisa disembuhkan.

Ini menarik. Saya jarang menemukan topik bunuh diri di buku fiksi kita, sementara di luar banyak sekali (inilah yang jadi dasar saya berpikir 'korban liberalisme' itu). Baik, ini memang tragis, tapi ketika diangkat ke literatur, mau tak mau kita harus memperhatikan hal yang lain, bukan? Plot, karakter, latar, semacamnya. Di antara beberapa buku tentang bunuh diri yang sudah saya lahap, inilah yang paling saya nikmati dan membawa getaran positif disamping temanya yang bikin sedih dan miris.

6. Love Letters to the Dead (Ava Dellaira)


Buku ini ditulis oleh muridnya Stephen Chobsky, makanya ada sedikit kemiripan format dan gaya bahasa dengan The Perks of Being A Wallflower. Tapi tetap, buku ini punya ciri khasnya tersendiri. Saya kagum dengan caranya penulis memainkan risetnya di budaya pop tanpa mengabaikan kalimat-kalimat indah. Twist di belakangnya juga cukup bikin saya berpikir. Dan lihat desain sampulnya, what's not to love? Cocok untuk yang suka novel dengan tipe surat, pemerhati musik dan film (ada surat untuk Heath Ledger!) dan hobi mencuplik kalimat bagus.

5. All The Bright Places (Jennifer Niven)


Saya bosan dicekoki blurb 'What Meets What' untuk menggambarkan bagaimana isi bukunya. Di sini tidak tanggung-tanggung--yang dibawa Eleanor and Park dan TFiOS! Tapi begitu dibaca, saya malah tidak menemukannya sama sekali disamping kisahnya yang memang written in the stars (Eleanor and Park) dan karakternya yang quirky (TFiOS). Banyak yang menyayangkan eksekusinya, namun menurut saya plotnya menarik dan ending-nya menguras hati. Dari sini saya belajar kalau bunuh diri punya korban dan penyintas, sama seperti penyakit lainnya.

4. Falling into Place (Amy Zhang)


Tertarik dengan buku ini semenjak lihat sampulnya. Itu rumus, kan? Ternyata memang membawa hukum fisikanya Newton yang ngehits itu. Penulisnya masih 18 tahun ketika merampungkan cerita ini, makanya latar SMA-nya begitu terasa. Meskipun begitu, dia dewasa dalam menulis, dan itulah yang membuat saya betah membacanya. Tokohnya tak biasa, seorang bully yang menggambarkan kalau sejahat-jahatnya orang dia masih punya alam bawah sadar. Yang paling saya suka--naratornya! Tertebak, tapi tetap bikin bertanya-tanya: kenapa harus dia?

3. I Was Here (Gayle Forman)


Desain sampul versi UK-nya lebih bagus menurut saya, jadi saya pasang yang ini. Untuk urusan menyayat perasaan, Gayle Forman jelas punya reputasi bagus. Saya terkesan dengan Where She Went dan Just One Day, jadi lumayan tinggi juga ekspektasi saya untuk buku barunya ini. Di sini saya disadarkan kalau bunuh diri itu mengerikan. Dan yang membantu orang untuk bunuh diri itu lebih mengerikan lagi. Saya betulan merinding. Kenapa bisa ada yang memanas-manasi orang lain membunuh dirinya sendiri? Sad but satisfying ending guaranteed.

2. French Pink (Prisca Primasari)


Akhirnya, karya pengarang lokal! Dan sebetulnya mengategorikan cerita ini ke suicide-themed termasuk memberikan spoiler, tapi tak apa, deh. Suka sekali dengan eksekusi novela ini. Twist-nya bikin bulu kuduk berdiri, karakternya kuat meski singkat, dan latar toko pita dengan warna-warnanya mengingatkan saya akan perumpamaan warna untuk orang Italia--perasaan. Latarnya boleh saja Jepang, tapi rasa Indonesianya kental, jadi saya mudah mencernanya. Alih-alih sedih, saya rasa buku ini lebih ke heartwarming dengan ending yang bahagia.

1. My Heart and Other Black Holes (Jasmine Warga)


Buku ini punya segalanya yang saya suka: tokoh utama yang mudah terhubung, cowok sporty yang manis, sedikit material eksotis negara lain (di sini Turki), konsep fisika yang down-to-earth (kali ini konservasi energi), juga satu lagi yang belum saya temukan di buku sejenis, harapan. Buku ini menggambarkan perih dan pahit dari para suicide partners, tapi pada akhirnya sang tokoh menyadari kalau hidup pantas diperjuangkan dan adanya kesempatan kedua. Dibanding aura muramnya, saya lebih menangkap buku ini cute dan fluffy. Dan, saya suka!

Kasus bunuh diri memang memprihatinkan, apalagi jika pelakunya masih di usia muda. Tapi kita juga tidak bisa menyangkal kalau yang seperti itu mustahil. Dari buku-buku di atas, saya belajar banyak hal soal isu ini. Kalau depresi tak bisa dianggap remeh. Kalau kita selalu butuh orang lain untuk diajak bicara. Kalau semua tak seperti kelihatannya. Dan, kalau dari banyak kejadian yang kita alami, ternyata kita masih bisa menemukan harapan sekecil apa pun.

Jujur saja, concern saya pun jadi meningkat karena buku-buku itu. Bagaimana di Indonesia? Apa kita juga meriset metode yang paling efektif dilakukan? Semoga saja negara ini terus dilindungi Tuhan dari bencana-bencana seperti itu. Namun, saya juga makin penasaran, apa suatu hari nanti buku dengan tema ini bakal diterima dan menjamur? Kita lihat saja.

2 comments:

  1. Wow.. nice info.. Buku tema suicide yang masih saya ingat itu punya Paulo Coelho, Veronica Decides to Die. Berburu yang di daftar ini juga aahh.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, saya malah belum baca buku Coelho yang satu itu! Kalau ada kesempatan, saya mau baca Veronica juga, deh. Terima kasih sudah berkunjung ya, Teh :)

      Delete