Sunday, August 23, 2015

Di Balik Layar 28 Detik (atau lebih)


Sudah cukup lama sebetulnya saya ingin menulis ini, namun selain karena harus menyusun apa yang mau saya tulis, saya juga sedikit ragu karena isinya akan sama dengan yang ada di #TwiTalk (alhamdulillah, saya diberi kesempatan ngobrolin 28 Detik di tiga akun) atau Book Talk dengan Klub Baca Bandung Maret lalu. Tapi, saya pun mengakui tidak semua 'di balik layar' itu saya utarakan karena keterbatasan lahan dan durasi. Dan setelah #LiveInterview di Twitter My Little Library milik Teh @atriasartika Juli silam, serta #NgeBookSip-nya kemarin malam tentang kaver buku, saya makin semangat untuk mempostingnya!

Nuhun pisan nya, Teh Atria ^^ sae pisan pokona mah

Bila saya harus menggambarkan keseluruhan pengalaman menulis 28 Detik dalam satu kata, itu adalah magical. Banyak kejadian tak terduga, di luar akal sekaligus masuk logika, dan (insya Allah) penuh berkah yang sampai saat ini saya ingat. Tujuan saya berbagi cerita ini sederhana saja. Karena saya merasa membaca bagaimana sebuah karya dibuat, suka-dukanya, dan penampilannya sebelum revisi jadi 'sempurna' selalu menarik, saya pun berharap kamu menemukan itu di sini, dan akan ada semangat yang tertular juga doa yang teralun untuk semua.

Jadi, inilah 'versi lengkap' dari pembuatan sebundel naskah beraroma kopi, Cafe Diem.

Ya, itulah judul pertamanya. Saya ambil dari Carpe Diem, yang artinya seize the day (sudah pada familiar, pastinya). Sejak awal, saya memang meniatkan naskah ini untuk diikutkan lomba Passion Show Bentang Belia, yang dari pertama saya lihat sudah langsung ingin saya ikuti karena, hei, ini 'gue banget!' Rasanya bagai menemukan seorang jodoh :P 

Poster yang mengawali semuanya

Namun judul itu baru datang sebulan setelah riset. Saya menemukan poster lomba itu di bulan Mei 2013, dan mulai mematangkan konsepnya di April. Saat itu adalah persiapan KKN di bulan Juni-Agustus, dan Juli akhir sudah masuk bulan Ramadhan. Saya pikir pasti akan banyak yang mengambil tema penulis, pelukis, komikus, atau profesi lain yang saya idamkan. Lalu, saya teringat teman perempuan saya yang pernah naksir anak Fisika dan seorang coffeeaddict.

Dia bilang, 'Kalau cowok itu jadi barista, pasti cocok banget!'

Cowok gebetannya itu berperawakan tinggi, tegap, sedikit kurus (oke, kurus banget malah), kulitnya coklat karamel, rahangnya tegas. Manis. Saya lalu 'mengoreksi' penampilannya sedikit--seharusnya lebih berisi, rambutnya lebih pendek, pembawaannya lebih tegas, dan pantas pakai apron. Dan saat itu pula, lahirlah sang tokoh utama beserta namanya yang juga langsung terpikirkan.

Sambil mengerjakan naskahnya, saya riset tentang kafe, kopi, dan barista. Saat itu memasuki Juni, saya sudah di tempat KKN dan visualisasi sebagai syarat lomba sudah saya kerjakan. Saya masih pakai sudut pandang tokoh utama cewek waktu itu dengan timeline masa depan. Di sela-sela mengerjakan tugas kuliah itu, saya tetap bersemangat melanjutkan naskah ini. Sampai di suatu siang, ketika satu posko tertidur tanpa sebab, saya dengan cerobohnya meninggalkan laptop di ruang tamu sementara saya pergi tidur ke kamar.

Kamu bisa tebak yang terjadi setelahnya.

Laptop itu saya miliki sejak semester satu. Beberapa bagian telah retak. Sekali-dua kali nge-hang. Tapi data-data di dalamnya itu yang bikin saya lemas begitu tahu ada orang tak bertanggung jawab mencurinya. Ditambah kondisi saat itu yang sedang tidak memungkinkan untuk langsung membeli laptop baru, saya berpikir bagaimana caranya saya punya media untuk mengetik.

Sementara, saya mengetik di komputer rumah dulu (alhamdulillah tempat KKN dekat dari rumah). Tapi itu tak berlangsung lama karena saya harus ke Bandung, kembali ke rumah nenek untuk berkuliah semester baru. Sebelum ke Bandung lagi, saya memanfaatkan ponsel saya untuk mengetik naskah cerpen. Karena bukan hanya data yang diambil paksa, tapi juga kepercayaan diri. Saya ikutsertakan cerpen itu ke lomba lokal di kampus, dan alhamdulillah juara satu. Dari situ saya yakin, tanpa laptop pun, saya bisa menyelesaikan naskah ini.

Di Bandung, saya lihat ada PC tua milik Pakde yang sudah lama tak digunakan. Saya coba, alhamdulillah masih berfungsi. Saya gunakan perangkat itu untuk mengetik proposal skripsi, tugas kuliah lain, dan tentunya naskah ini. Mengetik di PC yang non-portabel mengubah jadwal saya. Saya harus pulang lebih dini agar deadline terkejar. Ketika perkuliahan pagi kosong, saya booking jam 8-11 untuk mengetik naskah ini (saya menemukan 'waktu menulis' saya karena ini!). Dampak positif lain adalah rombakan naskah yang semula bikin mandek, ternyata setelah diganti sudut pandang dan latar waktunya langsung lancar.

Riset saya terus berjalan. Selain karena kebutuhan naskah, saya pun jatuh cinta dengan dunia kopi. Saya bisa merasakan semangat para barista yang mirip dengan semangat para penulis, meski bidangnya jauh beda. Dari situ saya menarik benang merahnya. Bahwa semangat, bagaimanapun bentuknya, tetap sama. That's the beauty of passion! Saya ingin menaruhnya di naskah ini, berharap yang membaca juga merasakannya. Itu tujuannya.

(Terlebih, saya memang selalu suka dunia kuliner. Kopi seperti mewujudkan itu.)

September akhir dikumpulkan, waktu mepet! Saya targetkan seminggu lagi selesai. Namun tiba-tiba, ada pemberitahuan dari panitia bahwa deadline diundur sebulan. Lega sekali rasanya, karena naskah finalnya baru saja ditulis dua minggu sebelum deadline lama! Dari situ saya berusaha untuk tidak membuang kesempatan. Kalau sedang mandek mau nulis apa, saya gunakan untuk mengedit bab sebelumnya. Usahakan harus efektif, harus efisien.

Akhirnya, sepekan sebelum deadline baru, saya bismillah kirimkan naskah itu. Pecah bisul. Tinggal berdoa dan tawakkalnya karena jujur, saya menginginkan hadiahnya untuk beli laptop baru.

Seseorang menghubungi saya di malam Desember awal. Katanya, jangan ke warnet dulu (modem saya ikut dicuri dengan laptop sebab masih menempel di situ) karena sejak tanggal satu saya bolak-balik ke warnet demi mengecek pengumuman. Besok saja. Lalu dia tak sabar. Dia bilang, ada nama saya di video pemenang Passion Show 2013.

Di bagian terakhir. Bagian juara pertama.

And that's why I call this entire experience 'magical.'

Sedikit typo tapi tak apa, yang penting maksudnya :D

Omong-omong, alhamdulillah saya sudah punya laptop baru, hadiah tak langsung dari Bentang Pustaka. Namanya Bru, singkatan dari Creme Brulee (sudah saya bilang saya suka kuliner, bukan?). Tab-nya sangat berguna untuk membaca buku dan browsing di internet. Entah kata apa lagi yang bisa saya ucapkan kecuali syukur dan terima kasih.

Pengalaman mengeditnya juga sama ajaibnya. Setelah dapat SPP di awal Januari 2014, bertepatan dengan mulainya saya nge-skripsi, saya mengedit Cafe Diem di bawah bimbingan Mbak Dila, sambil mengedit bab 3 di bawah bimbingan Mr. AFCW dan Miss Diana, sambil PPL (magang sebagai guru) di bawah bimbingan Mr. Rudy. Singkat kata: a systematic chaos.

Alhamdulillah (lagi), sebelum mengedit saya mendapat kesempatan belajar menulis online dengan lima penulis seri Love Flavour Bentang Populer. Super senang pokoknya! Bisa dibilang, itulah waktunya saya 'kebanjiran ilmu'. Dapat dari editor dan penulis sekaligus. Mengedit pun jadi selancar menulisnya, dengan sedikit usaha lebih karena harus memanfaatkan waktu di luar skripsi dan ngajar, tentunya.

Hah, panjang, ya? Hahaha. Namanya juga versi lengkap. Mungkin itu sebabnya juga, di samping melihat waktu yang tepat secara marketing, rilisnya novel ini jadi di Januari 2015.

Nah, sekarang saya mau cerita tentang kisah di balik elemen-elemen buku 28 Detik.

Judul
Di tengah-tengah mengedit naskah, Mbak Dila bilang, 'Judulnya ganti ya, jadi KopiKasep. Biar lebih menggambarkan isinya.' Saya setuju saja karena saya yakin penerbitan tahu yang terbaik. Namun ternyata, 'KopiKasep ditolak di rapat redaksi. Kamu kirim 20 judul alternatif ke aku, ya.' 

Saya akui mencari judul itu lumayan seru. Dan bikin pusing, haha. Saya sampai tanya ke teman sekelas saya, beberapa yang bagus saya ambil, yang lucu saya tertawakan (Ayah Mengapa Aku Barista, AmBarista--nama tengah saya Ambarita, Catatan Hati Seorang Barista).

Sekarang saya bersyukur saya memilih 28 Detik sebagai kandidat utama judulnya. Bayangkan jika judulnya jadi Tukang Kopi Naik Haji...

Kaver/Sampul
Saat membuat visualisasi, saya membayangkan kaver terbitnya (bahkan saya membuat visualisasnya dulu sebelum outline!) agar konsepnya dapat. Dengan skill Photoshop saya yang begini, saya coba membuat manipulasi foto menjadi sebuah kaver buku dengan konsep cerita yang sama. Ada pensil kelelawar, kalkulator, latte art yang membentuk judul buku, dan sertifikat karena ceritanya tentang memenangkan kompetisi lewat passion. Nuansanya warna hangat.

Saya nggak ngerti lagi sama Mas Bara Umar Birru, desainer sampul 28 Detik. Saya selalu gampang kagum sama pekerja seni yang 'dewa'. Beliau tahu maksud saya padahal belum pernah ketemu, tahu harapan saya kaver itu seperti apa, dan merealisasikannya dengan skill edit foto yang jauuuh lebih tinggi. Beruntung dan sangat bersyukur hasilnya seperti sekarang.

Visualisasi Cafe Diem (kiri) dan kaver buku 28 Detik (kanan)

Ilustrasi
Kalau kamu sudah baca 28 Detik, kamu pasti menemukan ilustrasi sebelum halaman bab baru. Kreatornya Mbak Belinda C.H. yang juga ilustrator di beberapa buku Bentang Belia yang unyu-unyu. Konsep ilustrasinya sendiri diserahkan ke saya, Mbak Belinda yang menggambarnya. Karena sebelumnya pernah lihat ilustrasi di Bentang Belia (meskipun belum tahu kalau bakal Mbak Belinda yang buat) saya membayangkan sepertinya akan lucu kalau ilustrasinya barang-barang di KopiKasep, seperti teh raspberry, grinder, stoples...

Dan Mbak Belinda pun mewujudkannya dengan sangat baik. Ini bocorannya, silakan beli di toko buku terdekat untuk gambar yang lain :D

Freshly roasted beans and the bags!

Karakter
Terakhir, saya mau berbagi tentang inspirasi terciptanya para karakter (saya coba buat versi sayanya seperti gambar di paling atas postingan ini--minus Pak Jac).

Candu

Seperti yang sudah diceritakan di atas, nama Candu dan ciri fisiknya langsung terbayang ketika mengingat perkataan teman saya itu. Kalau sifatnya sendiri, saya terinspirasi dari teman-teman saya yang gigih memperjuangkan mimpinya. Kebanyakan dari mereka komikus pemula atau aspiring digital artist, tapi semangatnya tetap sama, kan? Mereka memang punya daya juang yang tinggi, tapi kadang bisa lepas kendali ketika merasa 'semuanya kacau karena pihak luar'.

Rohan

Nama Rohan memang diambil dari nama game online. Saya pernah iseng ikutan waktu SMP dulu, hehe. Ketika saya googling artinya yang senada dengan kedengarannya (tangguh, pemberani), saya berharap karakter ini juga punya hati yang begitu. Sifatnya datang dari orang yang pintar bukan main tapi bingung mau jadi apa. Merekalah teman-teman seprodi saya. Mereka selalu bilang, 'How lucky you are, you know what you want to be.' tapi mereka tidak sadar potensi gunung es yang ada di diri mereka. Mereka tidak sadar kalau saya juga mau pintar fisika seperti mereka dan paham kenapa harus kucing Schrodinger.

Oh, ada beberapa protes yang datang ke saya soal Rohan. Mereka biasanya tidak suka dengan dia, haha (maaf ya, Han). Kesannya Rohan ini justru lebih egois dari Candu. Itu sebagian disengaja, sebagian juga tidak. Mungkin karena saya merasa sifat saya lebih dekat dengan Candu dan Rohan lebih condong sebagai orang yang dekat dengan saya.

Nino

Begitu merancang kedai KopiKasep, saya langsung tahu yang akan duduk di meja kasir adalah seorang pemuda kuliahan bernama Nino. Dia mudah masuk ke kepala saya. Saya senang ketika ada yang bilang mereka menyukai cowok satu ini, karena saya pun. Tipe yang akan saya temani (atau kencani?) langsung karena kecerdasan dan kemampuannya menyimpan rahasia. Dan kacamatanya. I heart glasses guys.

Winona

Ia adalah favorit saya, seandainya boleh main favorit. Rambut keriting pendek, pembawaan ceria, seakan membawa matahari di sakunya. Saya tak bisa tak kagum dengan sosok seperti itu. Dan biasanya, orang seperti Winona menyimpan masalah pelik di belakangnya. Saya mendedikasikan tokoh ini untuk seorang teman KKN yang mengalami KDH. Sekarang kami jarang bertemu, tapi saya sangat berharap ia akhirnya menemukan kebahagiaannya sendiri, seperti Winona yang menemukan keberaniannya melawan itu semua.

Satrya

Mau jujur dan minta maaf--saya comot nama ini dari nama seorang barista peserta Indonesian Barista Competition (IBC) tanpa sepengetahuan beliau. Semoga beliau rela namanya saya berikan ke tokoh lembut yang gemar tersenyum ini. Saya juga mewujudkan Satrya sebagai harapan bahwa nantinya orang seperti teman KKN saya itu bisa bertemu dengan 'kesatria' sepertinya.

Sery

Sebetulnya ini nama teman saya, Nursery, tapi saya baru bilang saya pakai namanya setelah bukunya terbit. Alhamdulillah dia ikhlas, hehe. Nama ini juga tercetus begitu saja seperti nama Winona. Saya suka tokoh perempuan yang rambutnya dikuncir kuda. Sifatnya kurang lebih sebagai penyeimbang yang lain. Saya sempat berpikir mungkin dialah 'antagonisnya', tapi ke sananya saya malah simpati.

Pak Jac

Namanya diambil dari nama teman online saya, Jacob. Dulu kami sering chat hal random, dari memelihara virtual pet sampai impian menerbitkan buku. Sekarang media sosialnya sudah tidak aktif, jadi sudah lost contact. Yang saya tahu, dia selalu ingin bisa Basa Sunda, maka saya buat Pak Jac ini nyunda pisan. Pak Jac juga didedikasikan ke Jacob karena dialah salah satu penulis favorit saya dan membuat saya bisa seperti ini.

Cob, kalau kamu entah bagaimana baca ini, semoga kamu senang.

Wah, akhirnya selesai juga. Begitu banyak hal personal di debut saya ini, tapi di sisi lain saya justru ingin memberitahu semua itu. Semoga terhibur, ya. Dan siapa tahu bisa bermanfaat dalam mengejar jodoh? (Baik, atau lebih enaknya, mengejar impian kita) Semoga juga bisa diambil hikmahnya, yang saya yakin salah satunya adalah 'jaga barang berharga Anda.' Saya memang ceroboh waktu itu, tidak memasukkan laptop ke kamar. Tapi, tanpa itu mungkin 28 Detik tak pernah lahir.

Tentu saja, di samping cerita panjang tadi, novel ini masih punya banyak kekurangan. Kalau kamu sudah membacanya, terima kasih, dan jangan sungkan untuk beritahu kesan-pesan/kritik-saran kamu, ya! Karena after the scene pun sama pentingnya dengan proses.

Sampai jumpa di 'Behind the Scene' buku kedua! (aamiin, haha)

4 comments:

  1. wahh ternyata hihi😁
    aamiin..
    ditunggu novel keduanya ya kak☺

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah hehe, terima kasih yaaa :D

      Delete
  2. Asyikkkk...

    Setelah tadi malam nggak sempet cari tahu banyak, akhirnya malam ini (sedikit) terbayar...

    Selamat, Teh Ifa..

    salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oooh, haha. Terima kasih sudah mampir ke sini dan ke acara Klub Baca Bandung kemarin, ya ^^ salam juga...

      Delete