Thursday, March 8, 2018

K-Fiction Readathon: Reading Experience

Waaah, postingan baru! Ya, saya mengomentari diri sendiri yang, pada akhirnya, menulis di sini lagi. Sepanjang dua tahun dari postingan sebelumnya, saya tetap menulis, hanya saja lebih di 'dunia nyata' (baca: pekerjaan). Ada juga yang setengah senang-senangnya, kok--karena masih harus berkutat dengan tenggat, dan tenggat adalah kewajiban--tapi untuk yang satu ini infonya menyusul saja, ya :D (N.B. Sekarang sudah tayang! Buku kedua saya, Un Treno Per Non So - Kereta Tanpa Tujuan kini tersedia di toko buku favorit kamu. Pembukanya (un preludio) ada di postingan setelah ini (alias di atas) dan kamu bisa klik gambar kovernya di tab kanan untuk masuk ke laman Goodreads-nya. Ayo, pesan segera! 😄)

Untuk sekarang, saya mau berbagi yang saya alami dan rasakan saat melakukan tantangan impromptu membaca 17 buku novel bertema Korea Selatan dalam delapan hari.

It just came in the middle of the night. Tahu kan, saat kita mau tidur dan sudah mengantuk tapi kita tetap saja tidak--bisa--tidur? Nah, di saat itulah ide itu datang. Saya jaraaang sekali membaca buku--terutama novel--bertema Korea yang, meski tak seheboh dulu, tetap digemari sampai sekarang. Masih lebih sering bertemu dengan buku jebolan Wattpad ketimbang K-fiction. Mungkin, kadang penerbit tidak mencantumkan novel itu berasal dari Wattpad sehingga saya bisa saja baru tahu ketika sudah membukanya. Sedangkan K-fic punya identitasnya sendiri, seperti penamaan tokoh, desain kover yang cenderung seragam, hingga nama-nama penulisnya yang sering didapuk sebagai penulis spesials K-fic. Dan jujur saja, saya cenderung menghindari novel yang membawa bau Korea di dalamnya.

Alasannya? Sederhana, takut nggak cocok. Saya bukan penonton K-drama atau pendengar K-pop, sedangkan K-fic lokal banyak sekali yang berdasarkan dua budaya pop itu, jadi gap apersepsi saya dan materi ceritanya bisa sangat berjarak. Hasilnya? Ya, nggak nyambung.

Namun... apa betul semua K-fic seperti itu? Pikiran (yang tumben husnuzan) itulah yang akhirnya mendorong saya untuk menciptakan tantangan ala-ala ini--dalam waktu secukupnya, baca dan pelajarilah K-fic sebanyak-banyaknya. Karena K-fic dari berbagai penerbit itu BANYAK sekali, saya membatasinya dengan membaca K-fic terbitan Grasindo yaitu pemenang lomba PSA (Publisher Search for Author) 3 bertema Korea Selatan. Selain karena hasil kompetisi yang tentunya melalui penilaian ketat sehingga ada jaminan kualitas, buku-bukunya juga mudah ditemui di perpustakaan daring seperti iJak dan iPusnas. iJak juga mendasari keinginan readathon saya ini, karena saya sering menemukan buku-buku K-fic dipinjam dan diresensi, memancing penasaran saya. Namun, waktu itu masih bingung mau mulai dari mana. Asumsikan perpus itu memuat lengkap karya pemenang PSA 3 dengan lengkap--maka saya sudah punya sumber untuk melaksanakan tantangan ini.

Sumber: http://grasindopublisher.blogspot.co.id/2015/04/psa3-korea-dalam-kata-dan-rasa.html

Dan, ya, kita mulai!

K-FIC READATHON OLEH IFA INZIATI

PERATURAN:

1. Buku yang dibaca adalah buku pemenang PSA 3 yang diterbitkan Grasindo
2. Buku dipinjam lewat iJak dan/atau iPusnas
3. Semua buku yang telah dibaca dicatat dan diulas di akun Goodreads untuk tracking
3. Banyaknya buku yang dibaca tergantung ketersediaan di iJak/iPusnas dan Goodreads untuk kepentingan ulasan
4. Waktu yang dibutuhkan seselesainya
5. Semua opini dan ulasan yang dicatat di Goodreads adalah murni pendapat saya

SETELAH MELAKSANAKAN READATHON

Akhirnya, dengan mencocokkan ketersediaan buku di perpus daring dan review di Goodreads, saya menyelesaikan 17 buku dalam waktu delapan hari, yang berarti rata-rata dua-tiga buku dalam sehari. To be honest, it was a challenging yet really fun experience. Saya betul-betul belajar banyak dari semua naskah yang beragam itu. Ada yang menonjolkan budaya tradisional Korea, ada yang mengedepankan tema unik seperti spionase dan fantasi, ada yang memakai teknik alur bolak-balik, ada yang menggunakan berbagai macam sudut pandang. Semuanya layak jadi pemenang. Tentu saja, selera sangat berpengaruh di sini, sehingga ada yang bisa sangat saya nikmati, ada pula yang membuat dahi saya mengerung. Namun, semuanya adalah naskah yang solid.

Karena memuat semua resensi tujuh belas buku itu membosankan, dan saya pun sudah review di Goodreads, jadi saya hanya akan merangkum apa yang saya dapat dari buku-buku itu. Dan tidak hanya tentang bukunya--setelah membaca, saya juga punya pertanyaan untuk penerbitnya, hehe.

1. CIRI KHAS K-FICTION

...terutama yang jebolan PSA 3. Selain mengetahui selera jurinya, saya juga jadi mengira-ngira beginilah selera pasar untuk K-fic, karena naskah yang menang dominan memiliki ciri khas serupa. Kira-kira inilah kesamaan yang saya kumpulkan:

- Beraroma K-Drama
Bukan rahasia lagi kalau K-fic kerap datang dari fanfiction K-drama/K-pop, sehingga tidak heran jika nuansanya terbawa-bawa di K-fic. Tak terkecuali para pemenang di sini. Dari 17 buku, sekitar dua belasnya memiliki atmosfer itu, yang berarti 70% dari buku yang saya baca. Setidaknya ada juga dua buku yang bernuansa manga Jepang. Ke--K-drama/K-pop--an ini datang dari berbagai tema, tapi yang dominan masih tema romantis.

Beberapa buku yang kental dengan nuansa K-Drama adalah:
And, Then oleh Yuli Pritania (pemenang pilihan dewasa)
Secret Identity oleh Riz Amelia (pemenang pilihan dewasa)
Secret of Heart oleh Byanca Sastra (pemenang utama remaja)
A Swing Time oleh Citra Novy (pemenang pilihan remaja)
100 Days oleh Nathalia Theodora (pemenang pilihan dewasa)
My Phobia Princess oleh Lovya Diani (pemenang pilihan dewasa)
Therapy oleh Indri Astuti (pemenang pilihan dewasa)

- Beralur Cepat
Semua karya pemenang ini memiliki alur yang cepat. Selain karena keterbatasan halaman yang menjadi syarat lomba, konfliknya rata-rata terdiri dari satu konflik besar dan satu cerita sampingan. Itu juga sebab mengapa saya 'berani' melakukan tantangan ini. Saya rasa aroma K-drama juga berpengaruh dalam kecepatan alur, apalagi yang nuansanya lincah.

- Melibatkan K-Idol
Memang tidak semua, tapi ada satu budaya pop Korea yang sering diselipkan bahkan di naskah yang tampak serius sekalipun. Paling kentara adalah yang menjadikan si idola tokoh utama seperti di And, Then... dan Secret of Heart. Ada pula yang menggunakan nama idola, sehingga nyaris terbaca seperti fanfiksi, seperti tokoh Dong-Hae (Super Junior) dalam My Phobia Princess.

- Penjudulan yang Mentah
Hmmm... saya tidak tahu bagaimana proses editing dari naskah-naskah pemenang ini, apakah memang tenggatnya cepat atau judul tiap naskah memang dibiarkan sesuai dengan awalnya. Dan, jika diperhatikan, semua novelnya memakai judul dalam Bahasa Inggris. Kenapa, ya? Buat saya pribadi, tidak direvisinya judul ini sangat disayangkan. Pertama, tidak semua judul ditulis sesuai tatanan Bahasa Inggris. Contohnya A Swing Time oleh Citra Novy. Jika memang artinya ayunan waktu, akan lebih enak dibaca Time Swing, atau mengikuti pola A Wrinkle In Time jadi A Swing In Time.

Kedua, tidak semua judul menggambarkan ceritanya. Misalnya Bad Dreams, Best Wishes oleh Mega Marchellina atau To: Daddy karya Asmira Fhea. Padahal saya sempat berharap ada naskah yang berjudul Bahasa Korea, loh! Mungkin jika judulnya ditulis dalam Bahasa Korea, feel Koreanya akan lebih dapat serta terlihat tidak generik. Namun, bukan berarti judul lain tidak bagus. Ada juga yang sederhana tapi sesuai dengan grammar dan cerita. Contohnya The Long Goodbye oleh Ida R. Yulia dan Dae Ho's Delivery Service karya Pretty Angelia.

Ini juga berlaku di editing naskah. Masih ada naskah yang hujan typo, tapi ada yang mulus bak tol. Semoga buku-buku penerbit Grasindo yang sekarang makin rapi, ya (update: dan ya, alhamdulillah ada buku terbaru Grasindo yang saya baca yang penulisannya rapi sekali).

2. REKOMENDASI SAYA

Jika kamu tertarik, saya merekomendasikan tiga buku yang ternyata sesuai selera saya sebagai pembaca awam K-fic. Buku itu adalah pemenang utama dewasa, Dae-Ho's Delivery Service (4 bintang); pemenang kedua dewasa, Homeless oleh Zachira (3.5 bintang); dan pemenang pilihan dewasa, Hello After Goodbye (4 bintang).

Dae-Ho sangat layak jadi pemenang utama karena dalam jumlah halaman yang terbatas buku ini mampu memuat cerita yang menarik khas film Korea alih-alih dramanya, dengan menonjolkan ciri khas Korea hingga ke detailnya. Serasa membaca buku terjemahan Korea alih-alih K-fic lokal! Dengar-dengar jurinya juga ada yang berasal dari Korea, dan tentu saja mereka akan senang budayanya dieksplor sejelas ini. Kalau mau tahu seberapa Koreanya naskah ini, cus baca!

Homeless benar-benar seperti judulnya, yaitu absennya rumah dalam kehidupan sang tokoh utama secara kiasan maupun harfiah. Membacanya serasa dibawa ke latarnya sungguhan dan narasinya membuat saya percaya saja dengan semua yang disajikan buku ini. Banyak kejutan di dalamnya, penulisannya juga rapi dan mengalir, serta ada sedikit romance yang manis dan jauh dari kata cheesy. Young Adult banget kalau kata saya.

Sedangkan Hello After Goodbye menawarkan vibe berbeda dari naskah yang kebanyakan mengusung akar K-Drama. Nuansanya mirip novel travelling Gagas Media yang sendu dan sedikit European, dan ini terasa amat segar untuk saya. Saya jadi dibuat penasaran dengan misteri dan latar-latarnya, sampai-sampai saya Googling untuk memastikan apa hotel dan tradisinya itu betulan ada, karena terasa real sekali.

3. YANG SAYA PELAJARI

Dua poin di atas sudah jelas menggambarkan yang saya temukan, tapi tidak hanya itu. Saya juga belajar banyak dari readathon ini. Teknik menulis, tren novel masa kini, cara memainkan sudut pandang, hingga selera juri. Ada beberapa naskah yang buat saya menggumam, 'Pantas menang' karena temanya yang tak biasa. Ada pula yang menonjolkan keunikan tokohnya.

Bora & Nok: The Journal karya Ghyna Amanda adalah naskah yang memberikan saya pengalaman membaca dari dua sudut pandang dan unsur local myth. The Long Goodbye menampilkan budaya lain yaitu Rusia dan sudut pandang orang pertama yang transisinya haluuus sekali ketika berpindah ke sudut pandang ketiga (plus, info tentang Alzheimer). Sapphirium, I'm In Love karya Amelia mengangkat teman fiksi sains-fantasi, dan Secret Indentity adalah novel action-romance tentang tekno-spionase yang berakhir realistis. Unik-unik, kan? Untuk itu saya pun tidak bosan mengikuti readathon ini, karena ada saja hal baru yang saya dapatkan dan cerna.

Terus... ada cerita saat saya sedang membaca. Jadi, karena ada perbedaan ejaan di antara masing-masing buku, saya bertanya ke teman saya yang seorang pecinta Korea tentang romanisasi tulisan hangul yang betul. Lalu dia tanya balik, kenapa tumben-tumbenan saya nanya begitu. Saya beritahu saja. Eh, ternyata dia malah bilang begini, "Kalau kamu udah selesai, berarti kamu udah lulus kokoreaan, dong? Bisa ngobrol pakai hangul deh, kita!" Seolah tak cukup, dia juga menjelaskan dari penulisan aksara hangul-nya sampai penurunan katanya... cukup pusing sih, tapi seru, haha. Nambah ilmu baru. Makasih ya, Silm!

TANTANGAN SELANJUTNYA

Setelah readathon ini, jujur saja saya merasa pusing, haha. Tiga buku dalam sehari, e-book pula, membuat mata saya harus beristirahat. Belum lagi aftertaste-nya yang K o r e a banget. Sejauh ini saya belum terpikir lagi reading challenge apa yang akan saya lakukan, tapi kalau ada dan dirasa bermanfaat untuk ditulis di blog, akan saya post. Hehe. Bagaimana dengan kamu? Apa kamu suka baca dan koleksi K-fic, anak bawang seperti saya, atau justru diam-diam mahir menuliskannya? ;)

Semoga bermanfaat, ya. Ini cuma postingan sharing pengalaman saja, jadi tentunya semua yang saya tulis di sini sesuai dengan yang saya rasakan dan pasti ada perbedaan pendapat karena bacaan juga masalah selera. Namun, suka K-fic atau tidak, kita harus akui bahwa hallyu wave memang pernah menembus budaya pop Indonesia bahkan sampai ke ranah literasi, and that's a good thing because human needs to learn something new.

No comments:

Post a Comment