Showing posts with label personal. Show all posts
Showing posts with label personal. Show all posts

Friday, October 6, 2023

Klik untuk Freebies!

 
Senangnya bisa kembali. Perasaan 'akhirnya mendapat sesuatu untuk dibagikan di blog' itu ternyata nggak berubah dari dulu. Di tengah gempuran kecanggihan dan keberagaman media sosial, saya bersyukur medium ini bertahan dan mudah-mudahan lestari.

Karena postingan ini sudah kamu klik, kamu berhak mendapat freebies (dua item!) yang dimaksud. Namun, biar nggak ujug-ujug sodorin tanpa landasan teori dan latar belakang yang sahih, saya mau cerita dulu kenapa bisa ada freebie-freebie ini dan apa aja yang terjadi selama beberapa bulan SATU TAHUN belakangan haha. Barusan ngintip dulu dan ternyata terakhir posting di sini Oktober lalu.

Ada hubungannya sama gambar Alita-nya UTPNS di atas? Ada. Jadi begini.

Friday, October 28, 2022

Desain Kover Wattpad (Lagi)


Alkisah, pada suatu malam, saya kebangun dan nggak bisa tidur lagi.

Alhasil, saya bebikinan kover premade.

Tamat. Nggak ding, hehe.

Sebetulnya, kalau nggak bisa tidur, biasanya saya akan mencoba tidur lagi. Atau minimal main HP (jangan dicontoh ya, harusnya tahajud). Tapi, saat itu saya baru saja dapat email dari panitia Wattys bahwa cerita saya di Wattpad, Memoriografi, masuk Daftar Pendek The Watty Awards 2022. Jadi bisa dibilang mendesain kover-kover ini merupakan reaksi saya setelah mendapat kabar itu.

Ya. Ada yang berseru girang, ada yang terharu, dan ada yang setelah berdoa malah ngulik Photoshop buat bikin enam kover Wattpad yang belum tahu bakal dipakai buat apa dan siapa. Sangat normal.

Thursday, September 29, 2022

Terjadi Belakangan Ini

Oh, wow, waktu. Entitas paling pasti yang tidak tertebak. Sebelum life update, saya ingin memberitahu bahwa yang saya tulis di sini merupakan ingatan, jadi bisa saja saya keliru di beberapa detail. Kenapa? Karena sebetulnya saya sudah mau update blog dari awal tahun ini, tapi belum juga dapat kesempatan atau inspirasi atau sekadar semangat buat melakukannya. Sekarang, ketika itu akhirnya ada, semoga saya tidak melewatkan yang penting atau bagi beberapa orang penting untuk mereka.

TL;DR: kalau ada yang salah dari postingan ini, tolong dimaafkan/dimaklumi.

*cracks fingers* now, here we go. P.S. this is gonna be a long, long post.

Monday, December 6, 2021

Reimagined Design III


Yap, kembali lagi dengan redesign saga yang ketiga. Di tengah—lagi-lagi—kebosanan, saya coba bikin dua kover novel dari penerbit KataDepan. Menariknya, satu buku terbit sebelum kepemimpinan redaksinya berganti, dan kita bisa lihat perbedaannya. Namun tentunya saya nggak akan bahas itu (oke, mungkin nyerempet sedikit). Proses desain dari masing-masing kover yang di-reimagined tetap jadi tema utama postingan ini. Hitung-hitung dokumentasi.

ANYWAY! Ada yang sudah baca Sintas? Kalau belum, bisa dibeli di toko buku, lokapasar, atau Gramdig. Mudah-mudahan berkenan dan suka. Kamu bisa membagi kesanmu di Goodreads, atau platform pribadi dan tag saya (nggak pun juga nggak apa-apa), dan sebarkan ke teman-teman! It'd help a lot, insya Allah. Saya nggak akan sampai sini kalau bukan karena pertolongan Tuhan yang mendatangkan para pembaca. Terima kasih (dan maaf promosi dulu, mumpung kamu baca. Hehe). Semua infonya bisa dicari di blog ini, kok.

Baik, langsung saja.

Wednesday, June 23, 2021

Di Balik Layar Sintas (alias YA Romance Pertama)


Makin lama makin nggak punya tenaga dan waktu buat ngewarnain ilustrasi, haha. Nggak apa-apa, lah. Lagi pula, line illustration lagi naik daun (pun intended).

Mengerjakan novel Sintas rasanya seperti merenovasi rumah berumur seratus tahun. Maksudnya, karena naskah ini saya tulis sejak masih jadi mahasiswi dan naskah finalnya pun selesai di tahun 2018 sebelum akhirnya terbit di 2021, saya merombak lebih banyak dari yang diperkirakan. Kalau lihat di HGTV, make over rumah tahun 1920-an setidaknya punya dua goal: 1) mempertahankan keunikan arsitektur aslinya yang tak bisa ditemukan lagi di zaman modern seperti ini dan 2) mengganti semua yang tak berfungsi, kuno, dan berbahaya untuk menghilangkan kesan angker. Sering ditemukan rumah bersejarah yang estetis, tapi ketika dibedah... ya ada abses lah, kayu lapuk lah, pipa bocor lah, kaca patri nggak kezamanan lah, dapur sempit lah, dan masih banyak lagi. Jadi, bagaimana dengan naskah Sintas 2018 yang kemudian saya revisi di tahun 2021 awal?

Tuesday, March 16, 2021

Reimagined Design: Wattpad Cover


Apa yang lebih membingungkan dari memikirkan satu naskah? Memikirkan dua naskah. Yang satu dalam masa revisi, satu lagi masih tahap dituliskan. Maka, untuk membersihkan kepekatan pikiran (?) atau sebagai transisi dari naskah yang sudah direvisi ke menulis naskah yang masih berlanjut, saya mengisinya dengan... ya, betul, mendesain kover lagi.

Namun, saya stuck memikirkan buku apa lagi yang bisa saya reimagine kovernya. Kemudian saya ingat ada satu menfess di autobase khusus pembaca dan penulis Wattpad di Twitter, yang bunyinya kira-kira begini: Ada yang mau aku bikinin covernya? Gratis, itung-itung latihan. Ini contoh cover yang pernah aku buat. Dan reply-nya lumayan juga, ada tiga atau empat yang berminat. Berarti, mungkin saja kebutuhan akan kover masih diminati di Wattpad.

Jadi, langkah pertama yang saya lakukan adalah mengirim menfess berikut.

Monday, January 11, 2021

Reimagined Design II


Ganti judul, ah. Sebelumnya pakai kata redesign, tapi pas dipikir lagi--plus lihat-lihat referensi--kata reimagined jadi lebih pas. Ya, meski tiap saya ketik reimagined, saya jadi kepikiran Linkin Park (atau itu artinya pertanda bagus?).

Halo! Kalau kamu belum baca postingan sebelumnya, boleh banget dicek dulu sebelum lanjut baca yang ini. Jadi intinya saya lagi suka berandai-andai tentang alternatif kover buku dari novel-novel yang pernah saya baca. Dan, setelah dapat dorongan dari buku Hurufontipografi, here I am (and here it is).

Ternyata, setelah saya melanjutkan nulis pun, saya bisa menyempatkan diri buat ngerjain konsep desain ulang kover lagi :D Jadi, saya posting juga di sini. Tapi kali ini agak berbeda. Untuk dua kover berikut, saya mendesain ulang dengan cara mengambil kebalikan dari konsep kover originalnya. Lebih lengkapnya langsung aja kita bahas satu per satu di bawah ini.

Wednesday, January 6, 2021

Book Cover Redesign


Dari kemarin judulnya bahasa Inggris melulu, kenapa dah? Haha.

Ya, soalnya kurang sreg aja kalau ditulisnya, 'Proyek Pribadi'. Terus, awal kenapa bisa ada ini kan, juga karena bosan (seperti biasa) dan lagi pengin penyegaran dari maraton nulis Menanti Mentari (karena memang sedang on-going) so nothing serious. Jadi, di sela-sela itu, saya suka mengisinya dengan entah gegambaran di art journal, cari inspo buat DIY, atau fangirling acara realitas dari Jepang, Dorakoi (judul aslinya nggak tahu deh, tapi di Waku Waku namanya ''Sweet Kiss Bitter Kiss"). Terus, dari mana bisa kepikiran ngedesain ulang kover buku?

Dari buku juga. Judulnya Hurufontipografi karya Surianto Rusman.

Wednesday, October 14, 2020

Pop Punk Post-2000s Edition (Part 2)

Gambar ulang Songpic-nya Voldemort - WithCon. Tapi males ngewarnainnya wkwk

Setelah menulis serba-serbi band pop punk kekinian yang baru saya temukan pada postingan ini, tentunya saya sudah berniat menulis bagian keduanya. Alasannya tak lain dan tak bukan adalah saya menemukan lebih banyak band keren lain. I CAN'T AFFORD TO GET INTO ANOTHER BAND, I KNOW. Tapi mau gimana lagi, emang beneran bagus, huhu.

Selain itu, saya juga di-mention salah satu mutual di Twitter yang bilang dia sudah baca bagian pertamanya dan jadi terinspirasi untuk mendengarkan iDKHOW padahal dia sudah pernah dengar sebelumnya. Dia juga bilang akan menunggu bagian duanya, jadi saya termotivasi. Hehe. Padahal saya yakin dia tahu lebih banyak dari saya secara lebih muda dan lebih gaul haha. Tapi saya sangat menghargai apresiasinya (appreciate the appreciation? Is that a word?) dan setidaknya jika memang dia sudah tahu semua, dia akan setuju dengan pilihan-pilihan saya ini.

Sunday, May 12, 2019

However... (Sebuah Cerpen)

Sebelumnya, selamat menunaikan ibadah puasa bagi kamu yang menjalankannya, ya. Semoga di bulan suci ini kita semua mendapat berkahnya. Berhubung sedang bulan puasa, dan blog ini sudah lama sepi, saya mau isi dengan cerpen bertema Ramadan yang saya tulis di tahun 2013 lalu dan sepenuhnya di ponsel Blackberry karena laptop saya habis dicuri. Cerpen ini lantas diikutsertakan dalam lomba menulis yang diadakan jurusan Fisika di universitas saya dulu, dan alhamdulillah mendapat juara 1. Lumayan hadiahnya buat nambah-nambah beli laptop baru :')

Buat saya, cerpen ini historis. Satu, tentunya karena ditulis saat keadaan saya sedang jatuh--lagi menyusun skripsi, keuangan menipis, eh Quinche si laptop dicuri pas KKN. Bukan cuma materi, mental pun sempat merasa rendah. Makanya ketika saya lihat selebaran lomba cerpen dari jurusan Fisika di media sosial, saya langsung niat ikut serta. Mengandalkan ponsel saya saat itu, Blackberry lungsuran Bapak yang punya aplikasi buka dan edit file Word, saya ketik cerita ini di sana dan setelahnya dipindahkan ke komputer lawas Pakde--komputer yang sama yang saya gunakan saat menulis 28 Detik!--untuk dicetak.

Saturday, September 29, 2018

Di Balik Layar Un Treno Per Non So - Kereta (bukan) Tanpa Tujuan


(pengin belajar gambar lagi, deh... kayaknya bagusan ilustrasi 28 Detik. haha)

Seperti di buku pertama, saya baru berbagi cerita tentang pembuatan karya kedua saya, Un Treno Per Non So di blog ini setelah novelnya rilis berbulan-bulan yang lalu. Kalau dulu bertepatan dengan #LiveInterview di Twitter, sekarang saya sedang mengadakan giveaway contest berhadiah pernak-pernik bertema salah satu unsur di novelnya, yaitu Hujan Emas atau La Pioggia d'Oro. Caranya mudah, cukup foto buku Un Treno (atau UTPNS? Salah sendiri kasih judul panjang-panjang haha) dan tulis resensinya di caption, sertakan tagar dan tag IG saya @coverlylove_id. Lebih lengkapnya tinggal ke postingan Instagram saya saja deh, yang paling terbaru :D

Wednesday, April 18, 2018

Pop Punk Post-2000s Edition

Ilustrasi aka songpic (istilah saya sendiri) yang saya buat berdasarkan dua lagu All Time Low, Stay Awake (Dreams Only Last For A Night) dan Somewhere In Neverland

Di tahun pertama saya mengajar dulu, saya dan rekan-rekan guru yang baru saja melewati sesi bagi raport (kalau di sekolah kami namanya Parent-Teacher Interview) memutuskan untuk menghibur diri dengan berkaraoke. Sesampainya kami di sana, kami memilih lagu bergantian dan bernyanyi, lalu sampailah pada pilihan lagu saya.

"Siapa nih, yang pilih Linkin Park?" tanya seorang guru heran.

Tuesday, October 20, 2015

Kambing & Hujan: Sebuah Bromance

Kalau dilihat dari takaran waktunya, postingan ini sudah pasti telat dua minggu. Tapi karena yang ingin saya bagi di sini adalah pengalaman pribadi saya ketika mengikuti acara ini, dan ilmu tidak pernah kedaluwarsa, jadi sah-sah saja, kan?

Cukup sudah pembelaannya. Di satu kesempatan yang menurut saya langka, yaitu Jabar Book Fair 2015, saya bersyukur bisa mengobrol dengan seorang penulis sugoii (bahasanya Nunu) yang karyanya saya kagumi, Mahfud Ikhwan. Bersama Klub Baca Bandung, saya berhasil mencuri sedikiiit pengetahuan tentang menulis (terutama saat menggarap Kambing & Hujan. Belum tahu? Cek di sini dan baca bukunya!) juga menjadi penulis dari beliau. Omong-omong, beliau termasuk tipe narasumber yang saya senangi, yang memberikan jawaban secara detail bukan terpatok pada template menstrim. Seperti apa? Ini contohnya:

Sunday, August 23, 2015

Di Balik Layar 28 Detik (atau lebih)


Sudah cukup lama sebetulnya saya ingin menulis ini, namun selain karena harus menyusun apa yang mau saya tulis, saya juga sedikit ragu karena isinya akan sama dengan yang ada di #TwiTalk (alhamdulillah, saya diberi kesempatan ngobrolin 28 Detik di tiga akun) atau Book Talk dengan Klub Baca Bandung Maret lalu. Tapi, saya pun mengakui tidak semua 'di balik layar' itu saya utarakan karena keterbatasan lahan dan durasi. Dan setelah #LiveInterview di Twitter My Little Library milik Teh @atriasartika Juli silam, serta #NgeBookSip-nya kemarin malam tentang kaver buku, saya makin semangat untuk mempostingnya!

Saturday, June 20, 2015

Buku Penghubung

Assalamu'alaikum,

hai kelas 3 Aster, apa kabar? Alhamdulillah aku baik-baik saja. Aku senang karena aku bisa shaum hari pertama di rumah, tapi aku sedih karena hari ini hari terakhir liburan awal puasa Ramadhan di rumah. Besok Senin aku harus masuk sekolah lagi. Hiks, hiks.

Sudah, ah.

Kembali ke gaya bahasa biasa saja, ya?

Yah, kurang lebih seperti itulah yang sering ditulis anak-anak di buku penghubung mereka. Ceritanya, posting-an ini jadi selembar buku penghubung saya, tempat curhat untuk kejadian sehari itu. Tapi saya mau menulis tentang sebulan-dua bulan sebelumnya--bahkan lebih--sampai sekarang. Terutama tentang kenapa saya bisa menulis 'buku penghubung'.

Wednesday, April 15, 2015

Tanduk Hijau

Bicara soal kekuatan riset pada sebuah bacaan, The Wild West Journey karangan Karl May menjadi salah satu contoh yang paling terkenal. Dalam buku bromance klasik itu disebutkan sebuah istilah Tanduk Hijau, yaitu anak-anak muda yang merasa dirinya paling tahu semua teori namun dalam praktiknya payah minta ampun.

Sekarang, kalau saya ditanya, 'Lagi sibuk apa?' mungkin jawaban saya adalah, 'Menjadi Tanduk Hijau yang diminta pergi bertualang ke suku Apache.' Seperti Old Shatterhand.

Dan semua kegiatan saya di 'Suku Apache' ini dimulai sejak--

Friday, March 13, 2015

Cafe + Photoshoot

Sewaktu saya mengikuti kuliah lapangan ke Pantai Sindang Kerta kira-kira dua tahun lalu, saya bertanya pada salah satu anak Biologi--kami dari IPSE melakukan penelitian gabungan dengan mereka--yang sejak berangkat sampai pulang tidak pernah lepas dari kameranya. "Ka, kenapa lo nggak seriusin aja hobi fotografi lo?"

Dan dia, masih dengan mata yang berkedip sebelah dan tangan yang mengatur lensa, menjawab santai. "Kalau gue fokus di sana, gue jadi nggak punya pelarian lagi, dong."

Saya tidak merenung setelahnya. Saya malah spontan berseru, "Iya, lo benar juga!" dan selain karena dia yang meminta tolong untuk memoduskan teman sekelas saya dengannya, juga kesamaan kami dalam membela tim sepak bola, kami lalu berteman baik.

Karena jawaban itu. Karena dia menyadarkan saya soal menekuni passion lewat bingkai yang lain.

Thursday, February 5, 2015

Komik dan Sains

Kali ini, saya ingin sedikit berbagi tentang project komik sains yang sedang saya kerjakan.

Seperti yang pernah saya tulis di sini, komik sains ini sebetulnya commission untuk pengerjaan sebuah tesis di jurusan Pendidikan Sains (maaf ya, Teh Hanna, kalau saya salah. Hehe). Komik ini berbeda dengan komik yang saya kerjakan untuk skripsi, meskipun intinya digunakan sebagai 'ekstensi' dari apa yang waktu itu saya teliti.

Ribet, ya? Haha.

Tetapi, proses bisa ketemu Teh Hanna sampai menunggu dan kemudian mengambil project ini justru mulus. Dan saya bersyukur akhirnya dapat diberi kesempatan lagi untuk 'mengoreksi' dan 'balas dendam' pada ketidakpuasan di komik sains saya dulu.

Tuesday, January 6, 2015

Semacam Resolusi

Teman saya menamai anaknya Takeru.

Bagi yang menonton Digimon Adventure--ya, kamu nggak salah dengar. Takeru dari Takeru Takaishi, pemegang crest Harapan alias Hope. Nama lengkapnya Zaid Takeru Nurhadi. Ayahnya seorang mubaligh, dan beliau cukup keren karena mubaligh mana yang menonton anime?

Bicara tentang Takeru, di 2015 ini Digimon Adventure Tri akan segera keluar. Siapa yang nggak mau melihat Taichi dkk. masuk SMA? (Mungkin dia tidak mengerti serunya petualangan di dunia digital, atau dia bukan anak terpilih) Tetapi, cukup sudah ke-otaku-annya. Banyak hal yang menunggu kita semua di tahun masehi ini, mulai dari kelanjutan serial kesukaan sampai project baru. Daftar di bawah ini termasuk favorit saya.

Thursday, December 4, 2014

Belajar. Lagi

Sudah bukan barang aneh lagi kalau suatu saat, di titik tertentu, seseorang akan bertanya (entah pada siapa) kenapa beberapa hal mesti terjadi. Saya pun. Wah, kalau dihitung, dalam kurun waktu dari selesai sidang sampai menjelang wisuda ini saja pasti sudah banyak yang saya pertanyakan. Namun akhirnya, beberapa ditinggalkan begitu saja tanpa jawaban.

Sudah puas? Tidak.

Memang ada saja hal yang tak butuh jawaban, bukan?

Seperti misalnya, kenapa harus tinggal di keluarga seperti ini. Saya seorang sulung dari empat bersaudara, cewek-cowok-cewek-cowok. Ayah dan Ibu pasangan sempurna, romantis malah, tapi keduanya bertolak belakang dengan kepribadian saya. Bukan pinta saya bisa seperti ini. Semua sudah maktub, dari atasnya.