Showing posts with label writing. Show all posts
Showing posts with label writing. Show all posts

Saturday, February 15, 2025

A Cup of Signs - Secangkir Kiasan

PEMUDA itu menemui Silvie seusai membayar tehnya, menunggu satu-dua pengunjung terakhir kedai malam itu pergi, kemudian duduk di seberang meja bar. Kata-katanya menghentikan Silvie yang sedang mengelap tatakan. “Bisakah Anda membantu saya?”

Silvie menoleh pelan. Di luar, bulan perak tampak dari pintu yang terbuka, menandakan musim semi putih yang cerah. Urusan apa yang membuat seorang pemuda tinggi tegap ini meminta bantuan gadis berkursi roda? Sebagian besar hari Silvie dihabiskan di atas perangkat kayu buatan ayahnya: dudukan berkaki empat dengan roda agak besar di bawah dan kemudi kecil di kanan untuk mengendalikannya. Dan kedai keluarga Rosk, kedai teh satu-satunya di Harviemer, hanya menyajikan teh. Mungkinkah dia menginginkan penganan kecil?

Sunday, March 15, 2020

Video Call (Un Treno Per Non So's Short Stories)

"Kami tutup."

Pemandangan di luar Una Stanza della Felicita memang tak kelihatan dari sini, tapi aku yakin matahari masih sedikit menampakkan dirinya. Lewat layar iPad-ku, senyum Anna tampak lembut dan berpiksel. Kulkas yang dipenuhi magnet suvenir menjadi latar belakangnya. Meja makan kayu yang kukenal sedikit terlihat, menopang dua lengannya yang terlipat.

Aku tak mau berspekulasi apa pun, tetapi harus kuterima kenyataan bahwa Anna sedikit lebih kurus dari dua tahun lalu. Ini membuatku khawatir--sangat khawatir, tapi selama yang kulihat adalah dapur Una Stanza dan bukan rumah sakit, kuyakinkan diriku dia baik-baik saja.

Sunday, May 12, 2019

However... (Sebuah Cerpen)

Sebelumnya, selamat menunaikan ibadah puasa bagi kamu yang menjalankannya, ya. Semoga di bulan suci ini kita semua mendapat berkahnya. Berhubung sedang bulan puasa, dan blog ini sudah lama sepi, saya mau isi dengan cerpen bertema Ramadan yang saya tulis di tahun 2013 lalu dan sepenuhnya di ponsel Blackberry karena laptop saya habis dicuri. Cerpen ini lantas diikutsertakan dalam lomba menulis yang diadakan jurusan Fisika di universitas saya dulu, dan alhamdulillah mendapat juara 1. Lumayan hadiahnya buat nambah-nambah beli laptop baru :')

Buat saya, cerpen ini historis. Satu, tentunya karena ditulis saat keadaan saya sedang jatuh--lagi menyusun skripsi, keuangan menipis, eh Quinche si laptop dicuri pas KKN. Bukan cuma materi, mental pun sempat merasa rendah. Makanya ketika saya lihat selebaran lomba cerpen dari jurusan Fisika di media sosial, saya langsung niat ikut serta. Mengandalkan ponsel saya saat itu, Blackberry lungsuran Bapak yang punya aplikasi buka dan edit file Word, saya ketik cerita ini di sana dan setelahnya dipindahkan ke komputer lawas Pakde--komputer yang sama yang saya gunakan saat menulis 28 Detik!--untuk dicetak.

Friday, June 24, 2016

Faith (28 Detik's Side Story)

Untuk Dinta

Melihat halaman teras rumah antik itu lewat jendela kedai di sampingnya seperti memandangi secarik foto lama bernuansa sepia. Bebatuan di lantai terlihat keemasan karena sinar senja. Taman depan yang ditumbuhi rumput, semak, dan mawar hutan berkilauan terbasuh cahaya. Pipi Rohan pun tampak bersemu, tangannya menyentuh batang pohon mawar dan ujung jarinya menekan-nekan pelan pada duri.

Candu keluar dari kedai melewatiku, kemudian belok kanan sedikit untuk menghampiri Rohan. "Kamu ngapain?" tanyanya kaget campur heran. "Tajam loh, itu."

"Memang." Rohan menoleh, tersenyum. Tangan satunya ternyata sedang mengusap perutnya yang sedikit membulat dengan gerakan melingkar. "Ada yang penasaran gimana rasanya."

Tuesday, May 17, 2016

Wild Memories

Sara yakin empat belas tahun lalu tidak seperti ini.

Hutan ini boleh saja sama, dengan bau pepohonan dan udara akhir musim semi yang panjang. Jalan yang ditelusurinya pun serupa, sisi-sisinya dipenuhi semak dan bunga.

Namun Sara masih menganggap pemuda di depannya sebagai anak berumur dua belas, yang menyanyikan Imse Vimse Spindel[1] sepanjang jalan. Dan ia masih seorang gadis sepuluh tahun menenteng keranjang rotan, tak sabar memenuhinya dengan smultron[2] untuk membuat ostkaka[3] bersama anak laki-laki itu.

Tuesday, October 20, 2015

Kambing & Hujan: Sebuah Bromance

Kalau dilihat dari takaran waktunya, postingan ini sudah pasti telat dua minggu. Tapi karena yang ingin saya bagi di sini adalah pengalaman pribadi saya ketika mengikuti acara ini, dan ilmu tidak pernah kedaluwarsa, jadi sah-sah saja, kan?

Cukup sudah pembelaannya. Di satu kesempatan yang menurut saya langka, yaitu Jabar Book Fair 2015, saya bersyukur bisa mengobrol dengan seorang penulis sugoii (bahasanya Nunu) yang karyanya saya kagumi, Mahfud Ikhwan. Bersama Klub Baca Bandung, saya berhasil mencuri sedikiiit pengetahuan tentang menulis (terutama saat menggarap Kambing & Hujan. Belum tahu? Cek di sini dan baca bukunya!) juga menjadi penulis dari beliau. Omong-omong, beliau termasuk tipe narasumber yang saya senangi, yang memberikan jawaban secara detail bukan terpatok pada template menstrim. Seperti apa? Ini contohnya:

Monday, May 18, 2015

Situ Ciburuy

Jadi, saya pernah mencoba menulis cerita romantis--yang ternyata ketika dibaca ulang lebih condong ke Contemporary Romance Young Adult--dan dengan beberapa pertimbangan positif, saya memutuskan untuk melanjutkannya. Namun karena draf dan segala macamnya dibuat sudah lama, dan sekarang pun saya masih mengerjakan proyek tulisan yang lain, saya berusaha untuk membangkitkan mood-nya dulu. Bagian ini terjadi sebelum bab SRT dan masih berkutat pada kegiatan Biologi. Oh, ya, saya masih menggunakan nama Sintas sebagai judulnya. Saya akan sangat senang jika cerita ini bisa diapresiasi kamu semua :)

N.B.: Maaf, ada yang kelupaan. Karena nama si tokoh cowok saat itu belum betul-betul diputuskan, jadinya berbeda dengan yang ada di SRT. Tapi sepertinya bakal nama di sini yang akan dipakai dan yang sebelumnya hanya nama pengganti. 

*

Thursday, February 5, 2015

Komik dan Sains

Kali ini, saya ingin sedikit berbagi tentang project komik sains yang sedang saya kerjakan.

Seperti yang pernah saya tulis di sini, komik sains ini sebetulnya commission untuk pengerjaan sebuah tesis di jurusan Pendidikan Sains (maaf ya, Teh Hanna, kalau saya salah. Hehe). Komik ini berbeda dengan komik yang saya kerjakan untuk skripsi, meskipun intinya digunakan sebagai 'ekstensi' dari apa yang waktu itu saya teliti.

Ribet, ya? Haha.

Tetapi, proses bisa ketemu Teh Hanna sampai menunggu dan kemudian mengambil project ini justru mulus. Dan saya bersyukur akhirnya dapat diberi kesempatan lagi untuk 'mengoreksi' dan 'balas dendam' pada ketidakpuasan di komik sains saya dulu.

Tuesday, January 6, 2015

Semacam Resolusi

Teman saya menamai anaknya Takeru.

Bagi yang menonton Digimon Adventure--ya, kamu nggak salah dengar. Takeru dari Takeru Takaishi, pemegang crest Harapan alias Hope. Nama lengkapnya Zaid Takeru Nurhadi. Ayahnya seorang mubaligh, dan beliau cukup keren karena mubaligh mana yang menonton anime?

Bicara tentang Takeru, di 2015 ini Digimon Adventure Tri akan segera keluar. Siapa yang nggak mau melihat Taichi dkk. masuk SMA? (Mungkin dia tidak mengerti serunya petualangan di dunia digital, atau dia bukan anak terpilih) Tetapi, cukup sudah ke-otaku-annya. Banyak hal yang menunggu kita semua di tahun masehi ini, mulai dari kelanjutan serial kesukaan sampai project baru. Daftar di bawah ini termasuk favorit saya.

Thursday, December 4, 2014

Belajar. Lagi

Sudah bukan barang aneh lagi kalau suatu saat, di titik tertentu, seseorang akan bertanya (entah pada siapa) kenapa beberapa hal mesti terjadi. Saya pun. Wah, kalau dihitung, dalam kurun waktu dari selesai sidang sampai menjelang wisuda ini saja pasti sudah banyak yang saya pertanyakan. Namun akhirnya, beberapa ditinggalkan begitu saja tanpa jawaban.

Sudah puas? Tidak.

Memang ada saja hal yang tak butuh jawaban, bukan?

Seperti misalnya, kenapa harus tinggal di keluarga seperti ini. Saya seorang sulung dari empat bersaudara, cewek-cowok-cewek-cowok. Ayah dan Ibu pasangan sempurna, romantis malah, tapi keduanya bertolak belakang dengan kepribadian saya. Bukan pinta saya bisa seperti ini. Semua sudah maktub, dari atasnya.

Tuesday, September 23, 2014

Saat Ia Menari - a translation

Cerita pendek ini adalah terjemahan bebas dari During the Dance karya Mark Lawrence, ditulis dengan izin pengarangnya. 

Ayah berhenti minum-minum di hari adik perempuanku lahir. Beliau memanggilnya malaikat, dan bir tak lagi mendekatinya sampai adikku meninggal. Ayah datang ke pemakaman sambil mabuk, menangis dan meraung, cukup keras untuk dua orangtua, cukup lantang untuk menutupi diamnya Mam. Pada akhirnya, orang-orang harus menahannya, atau beliau akan melompat ke kuburan. Bakal terlihat cukup konyol, seorang pria dewasa masuk ke dalam lubang sempit itu. Aku membayangkannya, beliau terjepit terbalik di liang lahat, kakinya bergerak di udara, dan tawa tahu-tahu menyerangku, begitu ganas sampai tenggorokanku sakit.

Saturday, September 13, 2014

SRT

Sebetulnya ini adalah cuplikan dari percobaan saya menulis roman. Ternyata sulit (haha) dan belum selesai, juga belum ada rencana untuk melanjutkan. Gara-gara menonton acara rekomendasi tempat liburan tadi pagi, dan lokasinya di Bandung, dan bertema panjat-memanjat, saya jadi ingin berbagi potongan cerita ini. Adegan ini jadi salah satu favorit saya dan didekasikan untuk teman-teman dari Biocita Biologi UPI Bandung yang sudah membantu kami para fakir asprak IPSE dalam mengikuti kuliah lapangan Ekologi Umum. Saran dan kritik sangat diterima! :)

Oh ya, cerita ini saya beri judul Sintas, terjemahan dari Survive yang juga saya pelajari di matkul Ekum. Semoga bisa dinikmati sebesar saya menikmati menulis bagian ini.

*

“Bojo, pakai-in harness gue dong, please!”

Saturday, September 6, 2014

Sabtu Bersama Gagas (Review Tantangan Menulis Bersama Prisca dan Moemoe)

Catatan: semua foto diambil dari Twitter @GagasMedia


Seminggu yang lalu, saya kembali melihat pengumuman Tantangan Menulis di fanpage GagasMedia. Bulan lalu saya juga berkesempatan menjadi pesertanya seperti yang pernah saya bagi di sini (meskipun tidak bisa dibilang sebagai review yang baik). Begitu saya tahu ada lagi, jujur saja saya sempat ragu. Tapi hanya beberapa menit.

Alhamdulillah, saya diundang untuk mengikuti acara keren ini lagi.

Kenapa keren? Ini alasannya:

Thursday, August 28, 2014

Skripsi? Digimon Siapa Itu?

PENGARUH BUKU NON-FIKSI PERSONAL ‘CATATAN AKHIR KULIAH’ TERHADAP KEHIDUPAN MAHASISWA TINGKAT AKHIR DI INDONESIA

SEBUAH ULASAN
Dibuat untuk mengikuti #quizCAK yang diselenggarakan oleh @maulasam

BAB I
LATAR BELAKANG 

Saat ini banyak sekali buku remaja yang terbit di Indonesia, terutama novel romantis dan personal literature. Personal literature umumnya menceritakan keseharian penulisnya dalam tema tertentu (Google & Seingatnya, 2012). Contoh dari buku personal ini adalah buku yang mengisahkan masa-masa kuliah terutama tingkat akhir dan segala pernak-perniknya seperti skripsi, sidang, kerja, sampai pernikahan.

Namun, tidak semua buku personal kuliah itu menyajikan konten yang mumpuni. Salah satu yang berkualitas adalah Catatan Akhir Kuliah (CAK) karangan Sam Maulana. Di sisi lain, banyak pembaca buku CAK yang bahkan belum lulus atau masih dalam perjuangan skripsi dan mereka sangat butuh penyemangat (Inziati, 2014).

Ulasan ini bertujuan untuk mencari tahu pengaruh antara buku CAK dengan kondisi mahasiswa tingkat akhir sebetulnya, dan untuk memenangkan kuisnya.

Sunday, August 10, 2014

Sembilan

(Sebelumnya maaf kalau ini bukan ulasan resmi yang formal dan mengikuti kaidah. Ini murni impresi saya, apa yang saya dapat secara pribadi, dan apa dampaknya dengan kegiatan yang sedang saya jalani.)

(photo by @GagasMedia)
Itu meja saya, paling ujung, kursi kosong, karena saya sedang salat Ashar

Jadi tanggal 9 Agustus lalu saya mengikuti acara Tantangan Menulis bersama Windry Ramadhina yang diselenggarakan oleh Gagas Media. Dari acara yang menyenangkan itu, setidaknya saya mendapat sembilan pelajaran seperti: